Saturday, March 17, 2018

Pewarna alami dari buah naga


Kulit buah naga merupakan limbah hasil pertanian yang mengandung zat warna alami antosianin cukup tinggi. Antosianin merupakan zat warna yang berperan memberikan warna merah yang berpotensi menjadi pewarna alami untuk pangan dan dapat dijadikan alternatif pengganti pewarna sintetis yang lebih aman bagi kesehatan.
Awalnya buah ini diketa­hui berasal dari wilayah di Amerika Tengah. Ada yang menyebutkan sebagian besar spesies Hylocereus ini ber­asal dari Amerika Latin (Mek­siko dan Kolom­bia). Spesies ini te­rus menyebar ke seluruh dunia terutama dae­rah tropis dan subtropis, dan mulai dikenal di ne­geri kita sekitar tahun 2000-an sebagai buah impor dari Thai­land. Lalu sejak tahun 2001 petani Indonesia mulai mem­budidayakan, terutama beberapa da­erah di Jawa Timur seperti Mojo­kerto, Pasuruan, Jember, dan seki­tar­nya.

Manfaat Kulit Buah Naga

Daging buah naga telah dikenal me­miliki banyak kha­siat bagi kese­hatan, kare­na mengandung senyawa bioaktif yang bermacam, di antaranya me­ngan­dung protein 0,48-0,5 %, karbo­hidrat 4,33-4,98, lemak 0,17-0,18, dan vitamin seperti karoten, thiamin, riboflavin, niasin dan asam askorbat.Buahnya saja yang berkhasiat untuk mencegah kanker usus, ken­cing manis dan ber­bagai pe­nyakit lainnya.

Selain daging buah, ter­nya­ta kulit buah nagapun me­miliki banyak man­faat. Kulit yang merupakan 30-35% dari keseluruhan bagian buah mengan­dung antioksi­dan, berbagai mineral, vita­min, seratserta zat warna alami an­to­sianinyang cukup tinggi. Ke­ung­gulan kulit buah naga super merah mi­sal­­nya, menurut penelitian Li Chen Wu kaya dengan poli­fenol dan sumber an­tioksidan yang baik. Bahkan akti­vitas antioksidan dan kegiatan anti­pro­liferatif kulit buah naga merah lebih kuat peng­hambatannya terhadap per­tum­buhan sel-sel kanker dari pada da­ging­nya serta tidak me­ngandung tok­sik. Kulit buah naga dapat pula diman­faatkan sebagai alat pende­tek­si maka­nan yang me­ngan­dung boraks dan forma­lin, sehingga konsumsi makanan akan tetap terjaga zat yang terkandung dalam kulit buah naga tersebut.

Warna merah yang dite­mu­kan pada kulit buah naga ternyata disebabkan kan­dung­an antosianin yang cu­kup ting­gi. Antosianin adalah salah satu pig­men alami yang terdapat pada tum­buhan dan dapat digunakan dalam ma­kanan atau obat. Sehingga pe­ne­muan sumber antosianin ini diharap­kan bisa menjadi alternatif pengganti pewarna sintetik.
Bagaimana mendapatkan pewarna merah dari kulit buah naga?

Untuk mengekstraksi an­tosianin dari kulit buah naga dapat meng­gu­na­kan pelarut air dan asam sitrat. Cara­nya adalah dengan memisahkan ba­gian daging dari kulit buahnya. Lalu ku­litnya dicu­ci dan ditiriskan sambil di­­keringanginkan. Setelah itu kulit buah dipotong kecil-kecil lalu diblen­der hingga menjadi bubur.

Bubur kulit ini diekstraksi dengan menggunakan pelarut air dan asam sitrat selama tiga hari. Penelitian Lidya Si­man­juntak dan kawan-kawan dari Univer­sitas Su­ma­tera Utara menye­but­kan campuran air dan asam sitrat 10% de­ngan rasio 1:6 (600 ml) dan la­ma eks­traksi 3 hari pada pH 2 mem­be­rikan hasil rendemen sampai 62,68% (% berat).

Disamping itu ekstrak kulit buah naga dapat diapli­kasikan langsung ke­dalam bahan pangan seperti mie basah. Proses ekstraksinya dilakukan de­ngan merebus kulit buah naga lalu dib­len­der sampai halus, kemudian disaring. Ekstrak ini dapat langsung ditam­bahkan ke da­lam adonan makanan.

Jadi, tak hanya daging buah yang me­ngandung seju­ta manfaat, kulit buah naga­pun memiliki kegunaan bagi kita. Selain mengurangi jum­lah lim­bah, kulit buah naga bisa menjadi sum­ber pewar­na alami yang aman bagi tu­buh.

(sumber : diadopsi dari berbagai sumber)

No comments:

Post a Comment